Image
  CINTA DAN PERJODOHAN DALAM PERNIKAHAN Pernikahan dalam Islam bukan semata-mata ikatan biologis, melainkan institusi sakral yang dibangun di atas nilai-nilai mawaddah, rahmah, dan sakinah. Salah satu anjuran Nabi Muhammad ﷺ dalam memilih pasangan hidup adalah memperhatikan unsur kasih sayang dan potensi keberlangsungan keturunan. Hal ini ditegaskan dalam sabda beliau〔¹〕: عَنْ مَعْقِلِ بْنِ يَسَارٍ، قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: «تَزَوَّجُوا الْوَدُودَ الْوَلُودَ فَإِنِّي مُكَاثِرٌ بِكُمُ الأُمَمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ» Hadis ini menjadi dasar normatif anjuran memilih pasangan yang al-wadūd (penuh kasih sayang) dan al-walūd (berpotensi melahirkan keturunan), sebagai bagian dari visi besar Islam dalam menjaga keberlanjutan umat. Namun dalam praktik sosial, pernikahan tidak selalu diawali oleh proses pengenalan panjang yang melahirkan cinta mendalam sejak awal. Tradisi perjodohan keluarga atau proses ta‘āruf yang terbatas masih banyak dijumpai, khususnya dalam masyarakat Muslim tradis...

MAKMUM MENGETAHUI NAJIS PADA IMAM SETELAH SHALAT

 MAKMUM MENGETAHUI NAJIS PADA IMAM SETELAH SHALAT


Seorang makmum setelah selesai  melaksanakan shalat jama’ah, mengetahui bahwa pakaian  imam ada najisnya.
Wajibkah ia mengulangi shalatnya?

Jawaban:

 Jika berupa najis ‘ainiyyah, bagi makmum wajib mengulangi shalatnya. Apabila berupa najis hukmiyyah, baginya tidak wajib mengulangi. Namun Imam Nawawi dalam kitab at-Tahqîq men-tashhîh (mempertegas), bahwa bagi makmum tidak wajib mengulangi shalatnya secara mutlak (baik najisnya berupa hukmiyyah atau ‘ainiyyah).


Referensi:


حاشية الجمل الجزء 1 صحـ : 259 مكتبة دار الفكر

لاَ إنْ بَانَ ذَا حَدَثٍ وَلَوْ حَدَثًا أَكْبَرَ وَ ذَا نَجَاسَةٍ خَفِيَّةٍ فِي ثَوْبِهِ أَوْ بَدَنِهِ فَلاَ تَجِبُ اْلإِعَادَةُ عَلَى الْمُقْتَدِيْ ِلانْتِفَاءِ التَّقْصِيْرِ مِنْهُ فِي ذَلِكَ بِخِلاَفِ النَّجَاسَةِ الظَّاهِرَةِ وَهِيَ مَا يَكُونُ بِحَيْثُ لَوْ تَأَمَّلَهَا الْمُقْتَدِيْ رَآهَا وَالْخَفِيَّةُ بِخِلاَفِهَا وَحَمَلَ فِي الْمَجْمُوعِ إطْلاَقَ مَنْ أَطْلَقَ وُجُوبَ اْلإِعَادَةِ فِي النَّجَاسَةِ عَلَى الظَّاهِرَةِ لَكِنَّهُ صَحَّحَ فِي التَّحْقِيقِ عَدَمَ وُجُوبِ اْلإِعَادَةِ مُطْلَقًا ( قَوْلُهُ بِخِلاَفِ النَّجَاسَةِ الظَّاهِرَةِ إلَخْ ) التَّحْقِيقُ أَنَّ الظَّاهِرَ هِيَ الْعَيْنِيَّةُ فِي أَيِّ مَوْضِعٍ كَانَتْ وَالْخَفِيَّةُ هِيَ الْحُكْمِيَّةُ فِي أَيِّ مَوْضِعٍ كَانَتْ اهـ 

Comments