Image
  CINTA DAN PERJODOHAN DALAM PERNIKAHAN Pernikahan dalam Islam bukan semata-mata ikatan biologis, melainkan institusi sakral yang dibangun di atas nilai-nilai mawaddah, rahmah, dan sakinah. Salah satu anjuran Nabi Muhammad ﷺ dalam memilih pasangan hidup adalah memperhatikan unsur kasih sayang dan potensi keberlangsungan keturunan. Hal ini ditegaskan dalam sabda beliau〔¹〕: عَنْ مَعْقِلِ بْنِ يَسَارٍ، قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: «تَزَوَّجُوا الْوَدُودَ الْوَلُودَ فَإِنِّي مُكَاثِرٌ بِكُمُ الأُمَمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ» Hadis ini menjadi dasar normatif anjuran memilih pasangan yang al-wadūd (penuh kasih sayang) dan al-walūd (berpotensi melahirkan keturunan), sebagai bagian dari visi besar Islam dalam menjaga keberlanjutan umat. Namun dalam praktik sosial, pernikahan tidak selalu diawali oleh proses pengenalan panjang yang melahirkan cinta mendalam sejak awal. Tradisi perjodohan keluarga atau proses ta‘āruf yang terbatas masih banyak dijumpai, khususnya dalam masyarakat Muslim tradis...

MAKMUM TERTINGGAL KARENA BACAANNYA LAMBAN

 

Baca juga :

MAKMUM TERTINGGAL, KARENA BACAANNYA LAMBAN


Karena sudah dimakan usia, seorang makmum sangat lambat dalam bacaannya. Sehingga saat membaca Fatihah, dia akan selesai ketika imam telah bangun dari ruku’. Apalagi imamnya masih muda, maunya yang cepat-cepat.


Pertanyaan :

Bagaimana fiqh menyikapi hal tersebut?

Jawaban : 

Makmum tetap meneruskan Fatihahnya serta boleh takhalluf (tidak mengikuti imam) sampai batas tiga rukun panjang yaitu: ruku’ dan dua sujud.


Referensi:

حاشيتا قليوبي وعميرة الجزء 1 صحـ : 286 مكتبة دار إحياء الكتب العربية

وَإِنْ كَانَ عُذْرٌ بِأَنْ أَسْرَعَ اْلإِمَامُ قِرَاءَتَهُ وَرَكَعَ قَبْلَ إتْمَامِ الْمَأْمُومِ الْفَاتِحَةَ وَهُوَ بَطِيءُ الْقِرَاءَةِ وَلَوِ اشْتَغَلَ بِإِتْمَامِهَا ِلاعْتِدَالِ اْلإِمَامِ وَسَجَدَ قَبْلَهُ فَقِيْلَ يَتْبَعُهُ وَتَسْقُطُ الْبَقِيَّةُ لِلْعُذْرِ وَالصَّحِيحُ لاَ بَلْ يُتِمُّهَا وَيَسْعَى خَلْفَهُ مَا لَمْ يُسْبَقْ بِأَكْثَرَ مِنْ ثَلاَثَةِ أَرْكَانٍ مَقْصُودَةٍ وَهِيَ الطَّوِيلَةُ فَلاَ يُعَدُّ مِنْهَا الْقَصِيْرُ وَهُوَ اِلإعْتِدَالُ وَالْجُلُوْسُ بَيْنَ السَّجْدَتَيْنِ كَمَا تَقَدَّمَ فِي سُجُودِ السَّهْوِ فَيَسْعَى خَلْفَهُ إذَا فَرَغَ مِنْ الْفَاتِحَةِ قَبْلَ فَرَاغِ اْلإِمَامِ مِنْ السَّجْدَةِ الثَّانِيَةِ أَوْ مَعَ فَرَاغِهِ مِنْهَا بِأَنِ ابْتَدَأَ فِي الرَّفْعِ اعْتِبَارًا بِبَقِيَّةِ الرَّكْعَةِ قَوْلُهُ ( وَهُوَ بَطِيءُ الْقِرَاءَةِ ) أَيْ خِلْقَةً وَأَشَارَ بِهَذَا إلَى أَنَّ اْلإِسْرَاعَ فِي كَلاَمِ الْمُصَنِّفِ هُوَ الْقِرَاءَةُ الْمُعْتَدِلَةُ اهـ


Comments