Kesuksesan santri tidak lepas dari siapa yg mendidik. Kyai (guru) mencurahkan secara totalitas pikiran dalam membentuk santri yang terinclud dalam kurikulum . Manivestasi kurikulum adalah santri-santri hebat. Munculah santri yang mewarnai pemikiran generasi setelahnya. Santri adalah tonggak estafet dalam menyebarkan pemikiran dan pengembangan ilmu dari kyai. Kalau ingin tahu hebatnya santri maka lihatlah siapa gurunya?..
Salah satunya imam Jalaluddin as suyuti pengarang kitab tafsir jalalain. Beliau santri imam Jalaluddin Al Mahalli. Al Mahalli memulai penulisan tafsirnya dari Surah al-Kahfi sampai surah terakhir, An-Nas. al-Mahalli kembali ke halaman muka Al-Quran, menafsirkan surah Al-Fatihah. Namun sayang, usai menafsirkan surah Al-Fatihah, beliau dipanggil ke haribaan Allah pada tahun 864 H./1459 M.
Setelah bertahun-tahun kemudian, pekerjaan yang belum selesai ini kemudian dilanjutkan oleh salah seorang santrinya yaitu Jalaluddin as-Suyuthi. As-Suyuthi melanjutkan dengan surah Al-Baqarah, Ali Imran dan seterusnya hingga akhir surah Al-Isra. Meskipun ditulis oleh murid dan guru, metodologi serta pola dan gaya bahasa yang digunakan oleh as-Suyuthi dalam merampungkan tafsir jalalain ini nyaris sama persis dengan tulisan awal sang guru. Oleh karenanya banyak yang mengira bahwa tafsir ini hanya ditulis oleh satu orang saja.
Tidak kalah hebat lagi adalah imam Al Ghozali .Dalam banyak kajian ushul fiqh di berbagai kitab mazhab Syafi'i nama Imam Haramain selalu disebut. Imam Haramain adalah seorang ulama besar yang berhasil menelurkan ulama besar sekaliber Hujjatul Islam Muhammad bin Muhammad bin Muhammad al-Ghazali ath-Thusi atau biasa kita sapa Imam al-Ghazali. Beliau Murid kesayangan Imam Al-Haramain bahkan sampai dijuluki Al-Bahr Al-Mughdiq (Lautan luas-deras) oleh gurunya. Al-Ghazali juga mulai diminta membantu mengajar oleh gurunya dan menggantikan gurunya jika berhalangan. Bahkan beliau adalah orang yang dipersilahkan duduk ditempat duduk gurunya, Imam Al-Haramain.
Sepeninggal gurunya, beliau meninggalkan Madrasah Nidzamiyyah Naisabur menuju tempat perdana mentri Nidzamul Mulk didekat kota Naisabur. Tempat itu dikenal sebagai perkumpulannnya ulama-ulama besar berdiskusi. Al-Ghazali yang memang juga jago berdebat segera mendapat nama dan diakui kehebatnnya. Popularitas beliau segera menanjak. Nama Al-Ghazali cukup disegani karena kedalaman ilmunya. Beliau segera diundang oleh perdana mentri Nidzamul Mulk yang memang mencintai ilmu pengetahuan ke Madrasah Nidzamiyyah Baghdad. Sebuah gudang ilmu pengetahuan yang bergengsi dimasanya. Hidup di istana sebagai penasihat perdana mentri Nidzamul Mulk, fasilitas hidup serba mewah, penghormatan setinggi-tingginya, dan menjadi profesor di Madrasah Nidzamiyyah Baghdad.
Di Indonesia banyak sekali santri santri produk dari imam nawawi. Di antara santri Nawawi yang menjadi ulama berpengaruh antara lain : Syekh Muhammad Mahfudz at-Tarmasi, Syekh Kholil al-Bangkalani, Madura .H. Saleh Darat as-Samarani, K.H. Hasyim Asyari, Jombang - Pendiri Nahdlatul Ulama, K.H. Ahmad Dahlan, Yogyakarta - Pendiri Muhammadiyah, K.H. Raden Asnawi, Kudus, Haji Abdul Karim Amrullah, Sumatera Barat, Dan lain sebagainya.
Imam Jalaluddin as suyuti, imam Al Ghozali, ulama-ulama Indonesia adalah produk produk kyai hebat. Apakah generasi setelahnya mampu memproduk generasi hebat?.
Comments
Post a Comment
Terima kasih telah berkunjung ke blog saya, silahkan berkomentar dengan sopan. Mohon Maaf, Komentar berisi Link Aktif, Promosi Produk Tertentu, J*di, P*rn*, Komentar berbau SARA dan Permusuhan, tidak akan dipublish.