Image
  CINTA DAN PERJODOHAN DALAM PERNIKAHAN Pernikahan dalam Islam bukan semata-mata ikatan biologis, melainkan institusi sakral yang dibangun di atas nilai-nilai mawaddah, rahmah, dan sakinah. Salah satu anjuran Nabi Muhammad ﷺ dalam memilih pasangan hidup adalah memperhatikan unsur kasih sayang dan potensi keberlangsungan keturunan. Hal ini ditegaskan dalam sabda beliau〔¹〕: عَنْ مَعْقِلِ بْنِ يَسَارٍ، قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: «تَزَوَّجُوا الْوَدُودَ الْوَلُودَ فَإِنِّي مُكَاثِرٌ بِكُمُ الأُمَمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ» Hadis ini menjadi dasar normatif anjuran memilih pasangan yang al-wadūd (penuh kasih sayang) dan al-walūd (berpotensi melahirkan keturunan), sebagai bagian dari visi besar Islam dalam menjaga keberlanjutan umat. Namun dalam praktik sosial, pernikahan tidak selalu diawali oleh proses pengenalan panjang yang melahirkan cinta mendalam sejak awal. Tradisi perjodohan keluarga atau proses ta‘āruf yang terbatas masih banyak dijumpai, khususnya dalam masyarakat Muslim tradis...

Usia 40....!



"Nabi Muhammad SAW diutus menjadi nabi tepat pada usia 40 tahun"

Ada apa di balik 40?
Coba kita lihat pendapat-pendapat ulama  :
1. Menurut Ibnu Qayyim Al-Jauziyah usia manusia diklasifikasikan menjadi 4 (empat) periode, yaitu:
  1. Anak-Anak (Aulad): sejak lahir hingga akil baligh
  2. Pemuda (Syabab) : sejak akil baligh hingga 40 tahun
  3. Dewasa (Kuhul): 40 tahun hingga 60 tahun
  4. Tua (Syuyukh): 60 tahun ke atas.
   Salah satu keistimewaan usia 40 tahun tercermin dari sabda Rasulullah SAW. “Seorang hamba muslim bila usianya mencapai 40 tahun Allah akan meringankan hisabnya (perhitungan amalnya). Jika usianya mencapai 60 tahun Allah memberikan anugerah berupa kemampuan kembali (bertaubat) kepada-Nya. Bila usianya mencapai 70 tahun, para penduduk langit (malaikat) akan mencintainya. Jika usianya mencapai 80 tahun Allah akan menetapkan amal kebaikannya dan menghapus amal keburukannya. Dan bila usianya mencapai 90 tahun Allah akan mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu. Juga akan memberikan pertolongan kepada anggota keluarganya serta Allah akan mencatatnya sebagai tawanan Allah di bumi”. (HR Imam Ahmad)
2. Imam Al Qurthubi Rahimahullah mengatakan, di usia 40 akal manusia berada pada puncak kecemerlangannya. Sedangkan sebelum dan sesudahnya berkurang keadaannya.
3. Imam Malik berkata, "Aku jumpai para ulama di negeriku (Madinah), mereka mengejar dunia, ilmu, dan berbaur dengan manusia, sampai datang kepada mereka usia 40 tahun, aku lihat mereka memisahkan diri dari manusia, mereka disibukkan dengan perkara akhirat sampai datang waktu kematian mereka." (Tafsir Al Qurthubi, 14/353)
4. Syaikh Mutawalli Asy Sya'rawiy Rahimahullah mengatakan, barangsiapa yang sampai 40 tahun belum bersama petunjuk, maka tidak ada angan-angan padanya, neraka lebih pantas dengannya. Sebab, ketika dia ingkar dan menyimpang di usia remaja, muda, dan enerjik, maka kami katakan: "Sesungguhnya ganasnya syahwat  para pemuda sampai masa akhir mudanya, maka ini dimaklumi dan dia diberikan 'udzur, adapun di usia 40 apa yang bisa dimaklumi? (Tafsir Asy Sya'rawiy, 15/957)
5. Menurut Ibnu Abbas, Hasan al-Bashri, Al-Kalbi, Wahab bin Munabbih, dan Masruq (Radhiyallahu ajma’in), yang dimaksud dengan “umur panjang dalam masa yang cukup untuk berfikir” dalam ayat tersebut tidak lain adalah ketika berusia 40 tahun. Menurut Ibnu Katsir, ayat ini memberikan petunjuk bahwa manusia apabila menjelang usia 40 tahun hendaklah memperbarui taubat dan kembali kepada Allah dengan bersungguh-sungguh.
6. Imam Asy-Syafi’i tatkala mencapai usia 40 tahun, beliau berjalan sambil memakai tongkat. Jika ditanya, jawab beliau, “Agar aku ingat bahwa aku adalah musafir. Demi Allah aku melihat diriku sekarang ini seperti seekor burung yang dipenjara di dalam sangkar. Lalu burung itu lepas di udara, kecuali telapak kakinya saja yang masih tertambat dalam sangkar. Komitmenku sekarang seperti itu juga. Aku tidak memiliki sisa-sisa syahwat untuk menetap tinggal di dunia. Aku tidak berkenan sahabat-sahabatku memberiku sedikit pun sedekah dari dunia. Aku juga tidak berkenan mereka mengingatkanku sedikit pun tentang hiruk-pikuk dunia, kecuali hal yang menurut syara’ lazim bagiku. Di antara aku dan dia ada Allah.

       Usia 40 tahun sangat menentukan. Ketentuan ini memang tidak mutlak. Ada saja orang yang baru mendapat hidayah pada saat usianya sudah lebih dari 40 tahun. Akan tetapi, umumnya orang yang sudah berusia 40 tahun atau lebih cenderung sulit menerima hal-hal baru. Apabila telah terbiasa dengan penyimpangan dan keburukan, ia akan sulit diluruskan dan diminta meninggalkan keburukannya. Mengapa demikian? Karena pada usia 40 tahun pemikiran dan sikap manusia telah matang dan kokoh, entah matang dan kokoh dalam kebaikan atau matang dan kokoh dalam keburukan.
Waallahu alam.

Arif never die
Selasa, 21 Juli 2020


Comments

Popular posts from this blog

LAKI-LAKI TIDAK BERCERITA

NIKAH DUA KALI, MAHAR YANG MANA?

BOLEHKAH PEREMPUAN KELUAR RUMAH TANPA IZIN SUAMI!