Al-Quran
merupakan kitab suci umat islam dan salah satu sumber hukum islam. Al-quran
adalah kalam allah yang mengandung mu’jizat diturunkan kepada nabi Muhammad
SAW, melalui malaikat jibril diriwayatkan secara mutawatir, nilai ibadah bagi
yang membacanya. Keistimewaan al-quran adalah
kitab yang dimudahkan untuk menghafal bagi orang yang menginginkannya.[1]
Salah
satu usaha untuk menjaga al-quran adalah
dengan menghafalnya pada setiap generasi.[2]
Meskipun allah telah menegaskan dan memberi jaminan tentang kemurnian dan
kesucian Al-Quran selama-lamanya.
Namun
secara operasional menjadi tugas dan kewajiban umat islam untuk menjaga dan
memeliharanya, salah satunya menghafalnya. Dengan demikian belajar Al-Quran adalah
kewajiban yang utama bagi muslim demikian juga mengajarkannya.
Menghafal
al-quran selain mengandung ibadah juga memberi pengaruh besar terhadap kesehatan jasmani dan rohani. Jika
kita mendengarkan music klasik dapat mempengaruhi kecerdasan intelektual (IQ)
dan kecerdasan emosional (EQ)
sekaligus kecerdasan spiritual (SQ) seseorang, maka
al-quran lebih dari itu, al-quran dapat mempengaruhi kecerdasan intelektual
(IQ) dan dan kecerdasan emosional (EQ) sekaligus kecerdasan spiritual (EQ) yang didalamnya ada proses mendengar, menghafal, dan
membaca berulang-ulang.[3]
Salah
jika ada orang berpandangan bahwa menghafal al quran mengganggu kecerdasan
berpikirnya. Justru malah sebaliknya, melatih menghafal al-quran bagi siswa
dapat meningkatkan kecerdasan. Hal ini terbukti pada ilmuwan-ilmuwan terdulu yaitu ibnu sina. Buku-buku karya
tulisannya menjadi pedoman diseluruh dunia dalam bidang kedokteran. Beliau
menghafal al-quran terlebih dahulu
sebelum mempelajari ilmu lainnya. Ada lagi al-khuwarizmi, teori
algoritma temuaannya dijadikan pedoman
seluruh matimatikawan dunia. Mengahafal al quran tetap didahulukan sebelum
mempelajari ilmu lainnya. Ada lagi imam al ghozali pengarang kitab ihya
ulumiddin dalam bidang tasawuf. Beliau di jadikan rujukan oleh orang islam maupun non islam. Ada ungkapan yang
menarik “seandainya al quran tidak ada, maka kitab ihya mampu menggantikannya”.
Bagi yahudi kitab ihya dijadikan juga rujukan dalam dunia tasawuf. Beliau juga
menghafal al quran terlebih dahulu sebelum ilmu yang lainnya. Hebatnya lagi,
ulama-ulama tadi tidak hanya menguasai satu disiplin ilmu saja . tetapi
menguasai berbagai disiplin ilmu, baik ilmu syariat ataupun ilmu umum. Seperti
ibnu sina tidak hanya menguasai ilmu kedokteran ( Qonun fi at-tibb), tapi juga dalam
bidang fiqih, tafsir, dan bahasa arab. Imam al-ghozali tidak hanya dalam bidang
tasawuf, tapi juga seorang filsuf islam karyanya maqasid al-falasifah, Tahafud al-falasifah,
mahir dalam bidang ilmu logika (mi’yar al-ilmi, al-qistas al-mustaqim, mikk al-nazar fi al-manthiq),
kosmologi. Semua itu bermula dari menghafal al-quran.
Orang yang terbiasa menghafal al-quran, maka ia akan
belajar keseriusan dalam hidup, serta belajar menata dan mengatur hidupnya.
para akademisi dan spesialisasi sependapat bahwa menghafal al-quran memiliki
efek yang baik dalam pengembangan keterampilan dasa pada siswa, serta dapat
meningkatkan pendidikan dan prestasi akademis. Dr. Abdullah subaih, profesor
psikologi di universitas imam muhammad su’ud al-islamiyah di riyadh, menyerukan
kepada pelajar agar mengikuti perkumpulan menghafal al-quran. Hafalan al-quran
dapat membantu konsentrasi dan syarat mendapatkan ilmu. Ia menambahkan semua
ilmu pengetahuan membutuhkan konsentrasi yang tinggi dalam meraihnya. Dan bagi
orang yang terbiasa menghafal al-quran, ia akan terlatih dengan konsentrasi
yang tinggi
Menurutnya, sel-sel otak itu sama halnya dengan tubuh
yang lainnya, yaitu harus diaktifkan
terus. Orang yang terbiasa menghafal, maka sel-sel otak dan badannya aktif, dan
menjadi lebih kuat dari pada orang yang mengabaikannya.[4]
Menurut peneliti yang lain yang dilakukan oleh shaleh bin
Ibarahim Ash-shani, dosen dari universitas imam muhammad su’ud al-islamiyah di
riyadh. Dalam penetiaannya beliau melibatkan dua kelompok mahasiswa universitas
malik abdul aziz di jeddah. Dalam studinya ini memaparkan membaca dan
mengahafal Al-Quran dapat menyehatkan jasmani, membantu daya ingat, pengahafal
al-Quran tidak terkena penyakit pikun, mengerdaskan dan meningkatkan IQ
(intellegence Quotient atau nilai kecerdasan), menambah keimanan, mengetahui
ilmu agama dan ilmu dunia menjadi hujjah (memberi alasan-alasan) dalam ghazwul
fikri (perang pemikiran), saat ini menjadi kemudahan dalam setiap urusan, mejadi
motifator, pikiran menjadi jernih, ketenangan dan stabilitas psikologi, lebih
diterima didepan publik,.[5]
[1] Abdul Madjid Khon, Praktikum
Qira’at, ( Jakarta: Amzah, 2008), Cet. 1, Hal. 2
[2] Yusuf Qardhawi,
Berinteraksi Dengan Al-Qur'an, pent:
Abdul Hayyie Al-Kattani, (Jakarta: Gema Insani Press, 1999), Hal. 189
[3] Abdul Hamid
M. Djamil, “agar menutut ilmu menjadi mudah”.( Jakarta : PT. Elex Media
Komputindo, 2015) Hal. 166
[4] Furqon
Hidayatullah, Pendidikan Karakter Membangun Peradaban Bangsa, (Surakarta
: UNS Press & Yuma Pustaka, 2010)
hal. 57
[5] Romdoni
Massul, Metode cepat menghafal & Memahami Ayat-Ayat Suci Al-Quran :
temukan kedamaian Kalbumu dengan Menyelami Samudra Kitab Suci, (Yogyakarta
: Lafal Indonesia, 2014) hal. 29-30
Comments
Post a Comment
Terima kasih telah berkunjung ke blog saya, silahkan berkomentar dengan sopan. Mohon Maaf, Komentar berisi Link Aktif, Promosi Produk Tertentu, J*di, P*rn*, Komentar berbau SARA dan Permusuhan, tidak akan dipublish.