Image
  CINTA DAN PERJODOHAN DALAM PERNIKAHAN Pernikahan dalam Islam bukan semata-mata ikatan biologis, melainkan institusi sakral yang dibangun di atas nilai-nilai mawaddah, rahmah, dan sakinah. Salah satu anjuran Nabi Muhammad ﷺ dalam memilih pasangan hidup adalah memperhatikan unsur kasih sayang dan potensi keberlangsungan keturunan. Hal ini ditegaskan dalam sabda beliau〔¹〕: عَنْ مَعْقِلِ بْنِ يَسَارٍ، قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: «تَزَوَّجُوا الْوَدُودَ الْوَلُودَ فَإِنِّي مُكَاثِرٌ بِكُمُ الأُمَمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ» Hadis ini menjadi dasar normatif anjuran memilih pasangan yang al-wadūd (penuh kasih sayang) dan al-walūd (berpotensi melahirkan keturunan), sebagai bagian dari visi besar Islam dalam menjaga keberlanjutan umat. Namun dalam praktik sosial, pernikahan tidak selalu diawali oleh proses pengenalan panjang yang melahirkan cinta mendalam sejak awal. Tradisi perjodohan keluarga atau proses ta‘āruf yang terbatas masih banyak dijumpai, khususnya dalam masyarakat Muslim tradis...

AIR AQUARIUM


Dalam masyarakat, memelihara ikan merupakan hal yang umum. Para pemilik ikan sering kali bersentuhan langsung dengan air dalam akuarium, bahkan terkadang tanpa bersuci setelah menyentuhnya.

Pertanyaan:

Bagaimana status hukum air tersebut?

Jawaban:

Air dalam akuarium dihukumi najis. Namun, najis tersebut dimaafkan selama sifat-sifat air, seperti warna, bau, dan rasa, tidak mengalami perubahan. Selain itu, pemeliharaan ikan harus memiliki tujuan yang jelas dan bukan sekadar untuk hiburan semata.


Referensi :

Kasyifatus Saja halaman 20

ـ (القليل) حكمه (يتنجس بوقوع النجاسة) المنجسة يقيناً (فيه وإن لم يتغير) لمفهوم قوله صلى الله عليه وسلّم: «إذا بلغ الماء قلتين لم يحمل خبثاً» وفي رواية نجساً إذ مفهومه أن ما دونها يحمل الخبث، وخرج بالنجاسة المنجسة النجس المعفو عنه كميتة لا دم لها سائل، ونجس لا يدركه طرف معتدل حيث لم يحصل بفعله ولو من مغلظ، كما إذا عف الذباب على نجس رطب ثم وقع في ماء قليل أو مائع فإنه لا ينجس مع أنه علق في رجله نجاسة لا يدركها الطرف وما على منفذ حيوان طاهر غير آدمي وروث سمك لم يغير الماء ولم يضعه فيه عبثاً وما يماسه العسل من الكوارة التي تجعل من روث نحو البقر وجرة البعير وألحق به فم ما يجتر من ولد البقر والضأن إذا التقم أخلاف أمه، وفم صبـي تنجس ثم غاب واحتمل طهارته كفم الهرة فإنه لا ينجس الماء القليل وذرق الطيور في الماء وإن لم يكن من طيوره وبعر فأرة عم الابتلاء به، وبعر شاة وقع في اللبن حال الحلب وما يبقى في نحو الكرش مما يشق تنقيته، والقليل من دخان النجاسة ولو من مغلظ وهو المتصاعد منها بواسطة نار، واليسير من الشعر المنفصل من غير مأكول غير مغلظ، والكثير منه من مركوب والقصاص والدم الباقي على اللحم والعظم الذي لم يختلط بشيء كما لو ذبحت شاة وقطع لحمها وبقي عليه أثر الدم بخلاف ما لو اختلط بغيره كما يفعل في البقر التي تذبح في المحل المعد لذبحها الآن من صب الماء عليها لإزالة الدم عنها فإن الباقي من الدم على اللحم بعد صب الماء لا يعفى عنه وإن قل لاختلاطه بأجنبـي فليتنبه له، والضابط في جميع ذلك أن العفو منوط بما يشق الاحتراز عنه غالباً، والمعتمد أنه لا يعفى عن دم البراغيث والقمل ونحوه بالنسبة للمائع والماء القليل وإن قل الدم دون الماء الكثير ولو قتل قملاً أو براغيث بـين أصابعه، فإن كان الدم الحاصل كثيراً لم يعف عنه أو قليلاً عفي عنه على الأصح، هذا وخرج بدخان النجاسة بخارها وهو المتصاعد منها لا بواسطة نار فهو طاهر، ومنه الريح الخارج من الكنف أو من الدبر فهو طاهر، فلو ملأ منه قربة وحملها على ظهره وصلى بها صحت صلاته.

Artinya :

Air sedikit menjadi najis jika terkena najis yang meyakinkan (pasti najis), meskipun sifatnya tidak berubah. Hal ini didasarkan pada sabda Nabi Muhammad ﷺ:

"Jika air mencapai dua qullah, maka ia tidak mengandung kotoran (najis)."

Dalam riwayat lain disebutkan "tidak menjadi najis." Pemahaman dari hadis ini menunjukkan bahwa jika air kurang dari dua qullah, maka ia dapat mengandung najis.

Adapun pengecualian dari najis yang meyakinkan adalah najis yang dimaafkan, seperti bangkai hewan yang tidak memiliki darah yang mengalir, serta najis yang tidak dapat dilihat oleh mata yang normal dalam keadaan wajar, selama tidak terjadi karena perbuatan manusia, bahkan jika berasal dari najis berat. Contohnya, jika lalat hinggap di najis yang basah lalu jatuh ke dalam air sedikit atau cairan lainnya, maka air tersebut tidak menjadi najis, meskipun terdapat najis yang menempel pada kakinya yang tidak terlihat oleh mata normal.

Begitu pula, kotoran yang berada di sekitar lubang hewan yang suci selain manusia, kotoran ikan yang tidak mengubah sifat air dan tidak dimasukkan ke dalam air dengan sengaja, serta madu yang bersentuhan dengan sarang lebah yang dibuat dari kotoran sapi atau unta.

Selain itu, tidak dianggap najis air yang bersentuhan dengan mulut hewan pemamah biak seperti anak sapi dan domba yang sedang menyusu, mulut bayi yang pernah terkena najis tetapi kemudian menghilang dalam waktu yang memungkinkan untuk disucikan, sebagaimana halnya mulut kucing yang tidak menajiskan air sedikit.

Kotoran burung yang jatuh ke dalam air, meskipun bukan berasal dari burung yang ada di air tersebut, kotoran tikus yang umum terjadi, serta kotoran kambing yang jatuh ke dalam susu saat pemerahan juga termasuk dalam najis yang dimaafkan. Begitu pula, sisa kotoran dalam perut hewan yang sulit dibersihkan, sedikit asap dari najis meskipun berasal dari najis berat yang terbakar, sedikit rambut dari hewan yang tidak halal dimakan selama bukan najis berat, serta rambut dalam jumlah banyak dari hewan tunggangan.

Selain itu, darah yang tersisa pada daging dan tulang yang belum bercampur dengan zat lain juga dimaafkan. Misalnya, jika seekor kambing disembelih dan dagingnya dipotong, maka bekas darah yang masih menempel tetap dimaafkan. Berbeda dengan darah yang bercampur dengan zat lain, seperti pada proses penyembelihan sapi di tempat pemotongan modern yang sering disiram air untuk menghilangkan darahnya. Darah yang tersisa setelah penyiraman tersebut tidak dimaafkan, meskipun sedikit, karena telah bercampur dengan unsur lain.

Kaida umumnya adalah bahwa najis yang dimaafkan bergantung pada kesulitan untuk menghindarinya dalam kehidupan sehari-hari.

Namun, menurut pendapat yang kuat, darah kutu, tungau, dan sejenisnya tidak dimaafkan jika jatuh ke dalam cairan atau air yang sedikit, meskipun jumlahnya sangat sedikit. Namun, jika berada dalam air yang banyak, maka tetap dimaafkan. Jika seseorang membunuh kutu atau tungau di antara jarinya, maka jika darah yang keluar banyak, tidak dimaafkan, sedangkan jika sedikit, maka dimaafkan menurut pendapat yang lebih sahih.

Selain itu, asap dari najis berbeda dengan uapnya. Uap yang naik dari najis tanpa melalui api tetap dianggap suci. Termasuk di dalamnya adalah angin yang keluar dari kakus atau dubur, yang tetap suci. Jika seseorang mengisi kantong dengan udara dari tempat tersebut, lalu membawanya dalam salat, maka salatnya tetap sah.



Comments

Popular posts from this blog

LAKI-LAKI TIDAK BERCERITA

NIKAH DUA KALI, MAHAR YANG MANA?

BOLEHKAH PEREMPUAN KELUAR RUMAH TANPA IZIN SUAMI!