Image
  CINTA DAN PERJODOHAN DALAM PERNIKAHAN Pernikahan dalam Islam bukan semata-mata ikatan biologis, melainkan institusi sakral yang dibangun di atas nilai-nilai mawaddah, rahmah, dan sakinah. Salah satu anjuran Nabi Muhammad ﷺ dalam memilih pasangan hidup adalah memperhatikan unsur kasih sayang dan potensi keberlangsungan keturunan. Hal ini ditegaskan dalam sabda beliau〔¹〕: عَنْ مَعْقِلِ بْنِ يَسَارٍ، قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: «تَزَوَّجُوا الْوَدُودَ الْوَلُودَ فَإِنِّي مُكَاثِرٌ بِكُمُ الأُمَمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ» Hadis ini menjadi dasar normatif anjuran memilih pasangan yang al-wadūd (penuh kasih sayang) dan al-walūd (berpotensi melahirkan keturunan), sebagai bagian dari visi besar Islam dalam menjaga keberlanjutan umat. Namun dalam praktik sosial, pernikahan tidak selalu diawali oleh proses pengenalan panjang yang melahirkan cinta mendalam sejak awal. Tradisi perjodohan keluarga atau proses ta‘āruf yang terbatas masih banyak dijumpai, khususnya dalam masyarakat Muslim tradis...

Langsung Salat Sunnah atau Menunggu Azan Selesai?

 Langsung Salat Sunnah atau Menunggu Azan Selesai?


Pada hari Jumat, seseorang masuk ke dalam masjid dan mendapati azan kedua tengah dikumandangkan. Ia memperhatikan bahwa beberapa orang yang dikenal sebagai ustadz langsung melaksanakan salat sunnah tahiyyatul masjid atau qobliyah Jumat meskipun azan belum selesai. Sementara itu, sebagian jamaah lainnya memilih menunggu hingga azan selesai terlebih dahulu sebelum melaksanakan salat sunnah tersebut.

PERTANYAAN`

Manakah yang lebih baik dilakukan: langsung melaksanakan salat sunnah meskipun azan kedua sedang berkumandang, atau menunggu azan selesai terlebih dahulu?

JAWABAN`

Yang lebih utama adalah menunggu azan selesai terlebih dahulu, kemudian menjawab azan sambil berdiri, lalu shalat tahiyyatul masjid secara ringan (cepat) agar tidak tertinggal awal khutbah.


REFERENSI:

📚 حاشية علي الشبراملسي على نهاية المحتاج إلى شرح المنهاج، ج ١ ص ٤٢٠-٤٢١

[فَرْعٌ] `لَوْ دَخَلَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ فِي أَثْنَاءِ الْأَذَانِ بَيْنَ يَدَيْ الْخَطِيبِ، فَفِي الْعُبَابِ تَبَعًا لِمَا اخْتَارَهُ أَبُو شُكَيْلٍ أَنَّهُ يُجِيبُ قَائِمًا ثُمَّ يُصَلِّي التَّحِيَّةَ بِخِفَّةٍ لِيَسْمَعَ أَوَّلَ الْخُطْبَةِ سم عَلَى حَجّ. وَلَوْ قِيلَ بِأَنَّهُ يُصَلِّي ثُمَّ يُجِيبُ لَمْ يَكُنْ بَعِيدًا لِأَنَّ الْإِجَابَةَ لَا تَفُوتُ بِطُولِ الْفَصْلِ مَا لَمْ يَفْحُش الطُّولُ،` عَلَى أَنَّهُ يُمْكِنُهُ الْإِتْيَانُ بِالْإِجَابَةِ وَالْخَطِيبُ يَخْطُبُ، بِخِلَافِ الصَّلَاةِ فَإِنَّهَا تَمْتَنِعُ عَلَيْهِ إذَا طَالَ الْفَصْلُ

Cabang (pembahasan):

Jika seseorang masuk ke masjid pada hari Jumat di tengah azan di hadapan khatib (azan kedua), maka dalam kitab al-‘Ubab, mengikuti pendapat yang dipilih oleh Abu Syukail, disebutkan bahwa ia menjawab azan dalam keadaan berdiri, kemudian melaksanakan salat tahiyyatul masjid secara ringan agar ia dapat mendengarkan awal khutbah — sebagaimana disebutkan oleh Syaikh Syamsuddin ar-Ramli dalam Hāsyiyah al-Hajj.

Dan jika dikatakan bahwa ia melaksanakan salat terlebih dahulu lalu menjawab azan, hal itu tidak terlalu jauh dari kebenaran (masih bisa diterima), karena menjawab azan tidak batal hanya karena lamanya jeda, selama tidak terlalu lama (tidak berlebihan).

Di sisi lain, memungkinkan baginya untuk menjawab azan sementara khatib sedang berkhutbah, berbeda dengan salat, karena salat dilarang dilakukan saat khutbah jika jedanya terlalu lama.

📚 حاشية ابن قاسم العبادي على تحفة المحتاج، ١/‏٤٧٩ 

(فَرْعٌ)

`لَوْ دَخَلَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ فِي أَثْنَاءِ الْأَذَانِ بَيْنَ يَدَيْ الْخَطِيبِ فَفِي الْعُبَابِ تَبَعًا لِمَا اخْتَارَهُ أَبُو شُكَيْلٍ أَنَّهُ يُجِيبُ قَائِمًا، ثُمَّ يُصَلِّي التَّحِيَّةَ بِخِفَّةٍ لِيَسْمَعَ أَوَّلَ الْخُطْبَةِ

"Jika seseorang masuk masjid pada hari Jumat di tengah azan (kedua) yang dikumandangkan di hadapan khatib, maka dalam kitab al-‘Ubab, mengikuti pendapat yang dipilih oleh Abu Syukail, disebutkan bahwa ia hendaknya menjawab azan dalam keadaan berdiri, lalu melaksanakan salat tahiyyatul masjid secara ringkas agar bisa mendengarkan awal khutbah."

📚 [الجمل، حاشية الجمل على شرح المنهج = فتوحات الوهاب بتوضيح شرح منهج الطلاب، ٣٠٩/١]

فَرْعٌ) لَوْ دَخَلَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ فِي أَثْنَاءِ الْأَذَانِ بَيْنَ يَدَيْ الْخَطِيبِ فَفِي الْعُبَابِ تَبَعًا لِمَا اخْتَارَهُ أَبُو شُكَيْلٍ أَنَّهُ يُجِيبُ قَائِمًا ثُمَّ يُصَلِّي التَّحِيَّةَ بِخِفَّةٍ لِيَسْمَعَ أَوَّلَ الْخُطْبَةِ اهـ سم عَلَى حَجّ وَلَوْ قِيلَ بِأَنَّهُ يُصَلِّي ثُمَّ يُجِيبُ لَمْ يَكُنْ بَعِيدًا؛ لِأَنَّ الْإِجَابَةَ لَا تَفُوتُ بِطُولِ الْفَصْلِ مَا لَمْ يُفْحِشْ الطُّولَ عَلَى أَنَّهُ يُمْكِنُهُ الْإِتْيَانُ بِالْإِجَابَةِ وَالْخَطِيبُ يَخْطُبُ بِخِلَافِ الصَّلَاةِ، فَإِنَّهَا تَمْتَنِعُ عَلَيْهِ إذَا طَالَ الْفَصْلُ اهـ ع ش عَلَى م ر.

      Cabang hukum: Jika seseorang masuk masjid pada hari Jumat ketika azan (kedua) sedang dikumandangkan di hadapan khatib, maka menurut kitab *al-‘Ubab*, mengikuti pendapat yang dipilih oleh Abu Syukail, hendaknya ia menjawab azan dalam keadaan berdiri, kemudian salat tahiyyatul masjid secara ringan (cepat) agar dapat mendengarkan awal khutbah.

      Menurut keterangan dari as-Sam'ani atas penjelasan al-Hajjawi: Jika dikatakan bahwa ia mendahulukan salat lalu menjawab azan, itu juga tidak jauh dari kebenaran, karena menjawab azan tidak batal atau gugur meskipun ada jeda yang panjang, selama tidak terlalu lama. Sebab memungkinkan baginya untuk menjawab azan meskipun khatib sedang berkhutbah, berbeda dengan salat, yang tidak boleh dilakukan jika jeda terlalu panjang."

📚 [ابن حجر الهيتمي، تحفة المحتاج في شرح المنهاج وحواشي الشرواني والعبادي، ٤٧٩/١]

فَرْعٌ)

لَوْ دَخَلَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ فِي أَثْنَاءِ الْأَذَانِ بَيْنَ يَدَيْ الْخَطِيبِ فَفِي الْعُبَابِ تَبَعًا لِمَا اخْتَارَهُ أَبُو شُكَيْلٍ أَنَّهُ يُجِيبُ قَائِمًا، ثُمَّ يُصَلِّي التَّحِيَّةَ بِخِفَّةٍ 

Jika seseorang masuk masjid pada hari Jumat ketika azan (kedua) sedang dikumandangkan di hadapan khatib, maka menurut kitab al-‘Ubab, mengikuti pendapat yang dipilih oleh Abu Syukail, ia hendaknya menjawab azan dalam keadaan berdiri, kemudian melaksanakan salat tahiyyatul masjid dengan ringan (cepat)."


Comments

Popular posts from this blog

LAKI-LAKI TIDAK BERCERITA

NIKAH DUA KALI, MAHAR YANG MANA?

BOLEHKAH PEREMPUAN KELUAR RUMAH TANPA IZIN SUAMI!