Image
  CINTA DAN PERJODOHAN DALAM PERNIKAHAN Pernikahan dalam Islam bukan semata-mata ikatan biologis, melainkan institusi sakral yang dibangun di atas nilai-nilai mawaddah, rahmah, dan sakinah. Salah satu anjuran Nabi Muhammad ﷺ dalam memilih pasangan hidup adalah memperhatikan unsur kasih sayang dan potensi keberlangsungan keturunan. Hal ini ditegaskan dalam sabda beliau〔¹〕: عَنْ مَعْقِلِ بْنِ يَسَارٍ، قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: «تَزَوَّجُوا الْوَدُودَ الْوَلُودَ فَإِنِّي مُكَاثِرٌ بِكُمُ الأُمَمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ» Hadis ini menjadi dasar normatif anjuran memilih pasangan yang al-wadūd (penuh kasih sayang) dan al-walūd (berpotensi melahirkan keturunan), sebagai bagian dari visi besar Islam dalam menjaga keberlanjutan umat. Namun dalam praktik sosial, pernikahan tidak selalu diawali oleh proses pengenalan panjang yang melahirkan cinta mendalam sejak awal. Tradisi perjodohan keluarga atau proses ta‘āruf yang terbatas masih banyak dijumpai, khususnya dalam masyarakat Muslim tradis...

Keutamaan Shalat di Rumah bagi Wanita dan Keluarga

 Keutamaan Shalat di Rumah bagi Wanita dan Keluarga

Baca juga

Pertanyaan

1. Bagi seorang wanita, lebih baik mana antara sholat di rumah dengan sholat di masjid?

2. Jika lebih baik sholat di rumah, manakah yang lebih utama bagi suami/ayah, sholat di masjid dan menyebabkan istri/anaknya tidak berjemaah, atau berjemaah dengan istri/anak di rumah?

Jawaban:

1. Bagi seorang wanita, lebih utama shalat di rumah dibandingkan shalat di masjid. 

2. Jika ada kemungkinan bahwa istri atau anak-anaknya tidak akan melaksanakan shalat berjemaah atau akan menyepelekan shalat jika suami atau ayahnya pergi ke masjid, maka lebih utama baginya untuk shalat berjemaah di rumah bersama mereka. 

Catatan

Dalam memilih untuk shalat di rumah atau di masjid, baik bagi wanita maupun pria, perlu mempertimbangkan beberapa faktor seperti potensi fitnah, kemudahan menjalankan ibadah dengan khusyuk, serta menjaga keutuhan keluarga dalam beribadah bersama. Secara umum, bagi pria, shalat berjemaah di masjid lebih utama, namun dalam kondisi tertentu seperti yang disebutkan, berjemaah di rumah dengan keluarga bisa lebih utama.


Referensi:

[البكري الدمياطي ,إعانة الطالبين على حل ألفاظ فتح المعين ,2/8]

وخرج بالذكر المرأة، فإن الجماعة لها في البيت أفضل منها في المسجد، لخبر: لا تمنعوا نساءكم المسجد، وبيوتهن خير لهن. نعم، يكره لذوات الهيئات حضور المسجد مع الرجال، لما في الصحيحين: عن عائشة رضي الله عنها أنها قالت: لو أن رسول الله - صلى الله عليه وسلم - رأى ما أحدث النساء لمنعهن المسجد كما منعت نساء بني إسرائيل ولما في ذلك من خوف الفتنة. وعبارة شرح م ر: ويكره لها - أي للمرأة - حضور جماعة المسجد إن كانت مشتهاة - ولو في ثياب بذلة - أو غير مشتهاة - وبها شئ من الزينة أو الريح الطيب. وللإمام أو نائبه منعهن حينئذ، كما له منع من تناول ذا ريح كريه من دخول المسجد. ويحرم عليهن بغير إذن ولي أو حليل أو سيد أوهما في أمة متزوجة، ومع خشية فتنة منها أو عليها.

Artinya :

“Dan yang dikecualikan dari anjuran tersebut adalah wanita, karena bagi wanita, shalat berjemaah di rumah lebih utama daripada di masjid, berdasarkan hadis: ‘Janganlah kalian melarang istri-istri kalian pergi ke masjid, namun rumah-rumah mereka lebih baik bagi mereka.’ Ya, dimakruhkan bagi wanita yang memiliki penampilan menonjol untuk menghadiri masjid bersama laki-laki. Sebagaimana terdapat dalam dua kitab shahih, dari Aisyah radhiyallahu 'anha, ia berkata: ‘Jika Rasulullah ﷺ melihat apa yang diperbuat oleh para wanita sekarang, niscaya beliau akan melarang mereka pergi ke masjid, sebagaimana wanita Bani Israil dilarang pergi ke masjid,’ karena dikhawatirkan terjadi fitnah. Dalam penjelasan kitab Syarh Mughni al-Muhtaj, disebutkan bahwa makruh bagi wanita untuk menghadiri shalat berjemaah di masjid jika ia menarik perhatian—meskipun memakai pakaian sederhana—atau tidak menarik perhatian tetapi memakai sesuatu yang mengandung perhiasan atau wewangian. Imam atau wakilnya boleh melarang mereka dalam situasi tersebut, sebagaimana ia boleh melarang orang yang berbau tidak sedap masuk ke masjid. Haram bagi wanita pergi ke masjid tanpa izin dari wali, suami, atau tuannya, terutama jika ada kekhawatiran akan timbulnya fitnah darinya atau terhadapnya.”

مغني المحتاج؛ ج ١، ص ٢٢٩

نعم لو كان إذا ذهب إلى المسجد وترك أهل بيته لصلوا فرادى أو لتهاونوا أو بعضهم في الصلاة أو لو صلى في بيته لصلى جماعة وإذا صلى في المسجد صلى وحده فصلاته في بيته أفضل.

Artinya :

“Ya, jika ketika ia pergi ke masjid dan meninggalkan keluarganya, mereka shalat secara sendiri-sendiri atau menyepelekan shalat, atau jika ia shalat di rumah, ia bisa shalat berjemaah, sedangkan jika ia shalat di masjid, ia hanya shalat sendirian, maka shalatnya di rumah lebih utama.”

[الخطيب الشربيني، الإقناع في حل ألفاظ أبي شجاع، ١٦٣/١]

والجماعة في المسجد لغير المرأة ومثلها الخنثى أفضل منها في غير المسجد كالبيت وجماعة المرأة والخنثى في البيت أفضل منها في المسجد لخبر الصحيحين صلوا أيها الناس في بيوتكم فإن أفضل الصلاة صلاة المرء في بيته إلا المكتوبة أي فهي في المسجد أفضل لأن المسجد مشتمل على الشرف وإظهار الشعائر وكثرة الجماعة.

Artinya :

“Dan shalat berjemaah di masjid bagi selain wanita, dan yang serupa dengannya seperti khuntsa, lebih utama dibandingkan shalat berjemaah di tempat lain seperti di rumah. Namun, bagi wanita dan khuntsa, shalat berjemaah di rumah lebih utama dibandingkan di masjid. Berdasarkan hadis dari dua kitab shahih: ‘Shalatlah kalian, wahai manusia, di rumah-rumah kalian, karena sesungguhnya shalat seseorang yang paling utama adalah di rumahnya, kecuali shalat wajib.’ Artinya, shalat wajib lebih utama di masjid karena masjid memiliki kehormatan, menampakkan syiar-syiar agama, dan memperbanyak jumlah jemaah.”

حاشية إعانة الطالبين؛ ج ٢، ص ٧

وتسن إعادة المكتوبة بشرط أن تكون في الوقت وأن لا تزاد في إعادتها على مرة خلافا لشيخ شيوخنا أبي الحسن البكري رحمه الله تعالى ولو صليت الأولى جماعة مع آخر ولو واحدا إماما كان أو مأموما في الأولى أو الثانية بنية فرض وان وقعت نفلا فينوي إعادة الصلاة المفروضة واختار الإمام أن ينوي الظهر أو العصر مثلا ولا يتعرض للفرض.

Artinya:

“Disunnahkan untuk mengulangi shalat fardhu dengan syarat masih dalam waktunya, dan pengulangan ini tidak dilakukan lebih dari satu kali, berbeda dengan pendapat Syekh dari guru-guru kami, Abu al-Hasan al-Bakri rahimahullah. Jika shalat yang pertama kali dilakukan secara berjemaah, meskipun hanya dengan satu orang, baik sebagai imam atau makmum, dalam shalat yang pertama atau yang kedua dengan niat shalat fardhu, meskipun yang pertama dianggap sebagai shalat sunnah, maka niatnya adalah mengulangi shalat fardhu. Imam memilih untuk meniatkan shalat zhuhur atau ashar, misalnya, tanpa menyebutkan niat fardhu.



Comments

Popular posts from this blog

LAKI-LAKI TIDAK BERCERITA

NIKAH DUA KALI, MAHAR YANG MANA?

BOLEHKAH PEREMPUAN KELUAR RUMAH TANPA IZIN SUAMI!