التَّقْوَى
التَّقْوَى هِىَ إِمْتِثَالُ أَوَامِرِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَاجْتِنَابُ نَوَاهِيهِ سِرًّا وَعَلَانِيَةً فَلَا تَتِمُّ إِلَّا بِالتَّخَلِّى عَنْ كُلِّ رَذِيلَةٍ ، وَالتَحَلِّى بِكُلِّ فَضِيلَةٍ فَهِيَ الطَّرِيقُ الَّذِي مَنْ سَلَكَهُ اهْتَدَى وَالعُرْوَةُ الوُثْقَى الَّتِي مَنْ اسْتَمْسَكَ بِهَا نَجَا
وَأَسْبَابُهَا كَثِيرَةٌ
مِنْهَا: أَنْ يُلَاحِظَ الإنْسَانُ أَنَّهُ عَبْدٌ ذَلِيلٌ ، وَأَنَّ رَبَّهُ قَوِيٌّ عَزِيز، وَلَا يَنْبَغِى لِلذَّلِيلِ أَنْ يَعْصِىَ العَزِيز ، لِأَنَّ نَاصِيَتُهُ بِيَدِه
وَمِنْهَا أَنْ يَتَذَكَّرَ إِحْسَانَ اللهِ إلَيْهِ فِى جَمِيعِ الأحْوَالِ ، وَمَنْ كَانَ كَذَلِكَ لَا يَنْبَغِى أَنْ تَجْحَدَ نِعْمَتَهُ
وَمِنْهَا: أَنْ يَتَذَكَّرَ المَوْتَ ، لِأَنَّ مَنْ عَلِمَ أَنَّهُ سَيَكُون وَأَنَّهُ لَيْسَ أَمَامَهُ إِلَّا الجَنَّةَ أَوِ النَّار ، بَعَثَهُ ذَلِكَ إِلَى الأَعْمَالِ الصَّالِحَةِ حَسْبَ الإسْتِطَاعَة وَمِنَ الأَعْمَالِ الصَّالِحَةِ مُسَاعَدَةُ المُسْلِمِينَ وَالنَّظَرُ إِلَيْهِم بِعَيْنِ العَطْفَ وَالرَّحْمَةِ خُصُوصًا إِذَا سَبَقَ مِنْهُم إحْسَانٌ إِلَيْه وَأَمَّا ثَمَرَتُهَا فَسَعَادَةُ الدَّارَيْن.
أَمَّا فِى الدُّنْيَا فَارْتِفَاعُ القَدْرِ وَجَمَالُ الصِّيتِ وَالذِّكْرِ وَاكْتِسَابُ المَوَدَّةِ مِنَ النَّاسِ لِأَنَّ صَاحِبَ التَّقْوَى يُعَظِّمُهُ الأَصَاغِرِ ، وَيَهَابَهُ الأَكَابِرُ ، وَيَرَاهُ كُلُّ عَاقِلٍ أَنَّهُ الأَوْلَى بِالبِرِّ وَالإِحْسَان
وَأمَّا فِى الآخِرَةِ فَالنَّجَاةُ مِنَ النَّارِ وَالفَوْزُ بِدُخُولِ الجَنَّةِ وَكَفَى المُتَّقِينَ شَرَفًا أَنَّ اللهَ يَقُولُ فِيهِم إِنَّ ٱللَّهَ مَعَ ٱلَّذِينَ ٱتَّقَواْ وَّٱلَّذِينَ هُم مُّحۡسِنُونَ
Artinya :
Takwa adalah mematuhi perintah Allah Azza wa Jalla dan menjauhi larangan-Nya, baik secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan. Takwa tidak akan sempurna kecuali dengan meninggalkan segala keburukan dan menghiasi diri dengan segala kebaikan. Ia adalah jalan yang barangsiapa yang menempuhnya, maka ia akan mendapat petunjuk, dan ia adalah pegangan yang kuat yang barangsiapa yang berpegang padanya, maka ia akan selamat.
Cara mencapai takwa banyak, di antaranya:
- Menyadari bahwa manusia adalah hamba yang lemah, sedangkan Tuhan adalah Maha Kuat dan Maha Mulia. Tidak layak bagi yang lemah untuk mendurhakai Yang Maha Mulia, karena hidupnya ada dalam genggaman-Nya.
- Mengingat kebaikan Allah dalam segala keadaan. Barangsiapa yang demikian, tidak pantas baginya mengingkari nikmat-Nya.
- Mengingat kematian, karena siapa yang menyadari bahwa hidupnya akan berakhir dan tidak ada yang menantinya kecuali surga atau neraka, maka hal itu akan mendorongnya untuk beramal saleh sebatas kemampuannya.
Di antara amal saleh adalah membantu sesama Muslim dan melihat mereka dengan pandangan kasih sayang, terutama jika mereka pernah berbuat baik kepadanya.
Buah dari takwa adalah kebahagiaan di dunia dan akhirat.
- Di dunia, ia mendapatkan kemuliaan, nama yang baik, dan cinta dari orang-orang, karena orang yang bertakwa dihormati oleh yang muda, ditakuti oleh yang besar, dan dianggap oleh setiap orang yang bijak sebagai orang yang paling pantas untuk dihormati dan diperlakukan dengan baik.
- Di akhirat, ia akan selamat dari neraka dan beruntung masuk surga.
Cukuplah bagi orang-orang yang bertakwa mendapat kemuliaan dengan firman Allah:
_"Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bertakwa dan mereka yang berbuat baik."_
PEMBAHASAN
Pembahasan ini menyoroti nilai-nilai ketakwaan dari perspektif sosial, psikologis, dan spiritual, serta memberikan metodologi pengembangan diri yang berhubungan dengan keyakinan agama.
1. Perspektif Psikologis:
- Kesadaran Diri (Self-awareness): Salah satu penyebab ketakwaan adalah kesadaran bahwa manusia adalah makhluk yang lemah di hadapan Tuhan yang Maha Kuat dan Maha Perkasa. Secara psikologis, ini menggambarkan pentingnya introspeksi dan rendah hati dalam menghadapi hidup, yang menghindari tindakan yang melawan kehendak Tuhan.
- Rasa Syukur : Mengingat segala nikmat yang telah diberikan oleh Tuhan mendorong manusia untuk menghargai hidup dan tidak menolak atau ingkar terhadap nikmat tersebut. Ini sejalan dengan konsep psikologi positif, di mana rasa syukur terbukti meningkatkan kesejahteraan mental dan kebahagiaan.
- Kesadaran akan Kematian : Dengan mengingat kematian dan kehidupan setelah mati, individu menjadi lebih termotivasi untuk melakukan perbuatan baik. Ini juga mencerminkan "memento mori" dalam psikologi, yaitu pengingat tentang kematian yang mempengaruhi perilaku moral dan etis manusia.
2. Perspektif Sosial :
- Hubungan Sosial yang Baik : Menjadi bagian dari masyarakat dengan membantu orang lain, terutama sesama Muslim, mengarah pada hubungan yang lebih baik dan solidaritas sosial. Ketakwaan di sini juga mencakup empati terhadap orang lain, yang memperkuat hubungan sosial. Ini sejalan dengan prinsip sosiologis tentang kohesi sosial, di mana ikatan antarindividu dalam masyarakat diperkuat oleh amal dan tindakan kebaikan.
- Penghargaan dan Kehormatan Sosial : Orang yang bertakwa dihormati oleh orang lain, baik yang muda maupun yang tua. Secara sosiologis, individu yang menjalankan perilaku baik dan adil akan mendapatkan pengakuan dan status sosial yang lebih tinggi dalam masyarakat.
3. Perspektif Spiritual dan Etika:
- Mengingat Tuhan dalam Kehidupan: Orang yang bertakwa diingatkan untuk selalu merujuk kepada Tuhan dalam segala keadaan. Ini berfungsi sebagai penggerak utama untuk terus melakukan kebaikan dan menghindari kejahatan. Spiritualitas dan ketakwaan menjadi fondasi perilaku etis dan moral yang kuat.
- Penghargaan di Dunia dan Akhirat : Di dunia, ketakwaan memberikan kebahagiaan, kehormatan, dan rasa hormat dari orang lain. Di akhirat, ganjarannya adalah masuk surga dan terbebas dari neraka. Ini menggambarkan hubungan timbal balik antara perbuatan baik di dunia dan pahala di akhirat.
Comments
Post a Comment
Terima kasih telah berkunjung ke blog saya, silahkan berkomentar dengan sopan. Mohon Maaf, Komentar berisi Link Aktif, Promosi Produk Tertentu, J*di, P*rn*, Komentar berbau SARA dan Permusuhan, tidak akan dipublish.